Badan Karantina Pertanian
Profil
· Profil
· Tupoksi
· Visi dan Misi
· Struktur Organisasi

Layanan Pengaduan


Layanan Informasi


Form Pengaduan

Pengaduan


Menu Utama
  • Depan
  • Arsip Berita
  • Downloads
  • Feedback
  • Gallery
  • Kirim Berita
  • Kontak
  • Search
  • Topics
  • Web Links

  • Pencarian



    Hit
    Kami sudah menampilkan
    4603094
    halaman sejak Maret 2013

    KARANTINA CEGAH PENYAKIT HEWAN BERBAHAYA MASUK SULAWESI TENGAH
    Dikirim oleh sahidin - pada Jumat, 07 Maret 2014

    Edisi 2 :   Hari/tanggal       : Senin, 10 februari 2014                   Sumber data      : Radar Sulteng, Hal. 10                   Nama Penulis   : Drh. I Made Sutawan (Ka. Seksi Karantina Hewan BKP Kls II Palu) Info yang tersampaikan : Dewasa ini peran karantina dalam globalisasi perdagangan dunia semakin dirasakan sangat penting dan strategis. Perdagangan dapat menimbulkan konsekuensi  penyebaran hama penyakit hewan menular dari suatu negara ke negara lain,. sehingga penerapan Sanitary and Pytosanitary Agreement (SPS) – WTO  terhadap lalu lintas komoditas pertanian khususnya hewan dan produknya wajib dilakukan untuk melindungi kehidupan dari ancaman bahaya hama penyakit hewan karantina  atau bahan pangan yang tercemar mikroba dan residu (antibiotika, logam berat, pestisida, dan bahan kimia lainnya ) yang dapat berakibat pada kematian atau gangguan kesehatan manusia atau hewan  serta kelestarian sumber daya alam hayati dan lingkungan hidup.  



    Indonesia adalah salah satu dari 5 ( lima ) negara besar di dunia yang dinyatakan bebas penyakit mulut dan kuku (PMK) tanpa vaksinasi. Tetapi ada beberapa penyakit yang bersifat  zoonosis keberadaannya secara endemik diantaranya anthrax, rabies, leptospirosis, brucellosis, toksoplasmosis, flu burung/AI dan lain-lainnya. Dalam melaksanakan fungsi pencegahan dan penolakan masuk dan tersebarnya HPHK, karantina pertanian melakukan pangawasan lalu lintas perdagangan hewan dan produknya sesuai dengan aturan dan ketentuan yang berlaku, untuk memastikan  dan meyakinkan bahwa media pembawa tersebut tidak mengandung atau tidak dapat lagi menularkan penyakit hewan karantina., tidak lagi membahayakan kesehatan manusia dan menjaga ketentraman batin masyarakat melalui kecukupan pangan yang bermutu dan bergizi, serta ikut menjaga kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup. Balai Karantina Pertanian  Kelas II Palu merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis Karantina Pertanian (UPTKP)  melakukan kegiatan pengawasan, pemeriksaan dan tindakan karantina terhadap lalu lintas hewan dan produknya. Tercatat lalu lintas hewan dan produknya keluar  dari Sulawesi Tengah tahun 2013 antara lain ternak sapi 14.568 ekor, kambing 13.059 ekor dengan perkiraan nilai ekonomi masing-masing sebesar Rp. 145.680.000.000 dan Rp. 195.885.000, unggas 8.306 ekor, sarang burung walet 1.091 kg. dan yang masuk Sulawesi Tengah antara lain DOC  3.489.730 ekor dengan perkiraan nilai ekonomi Rp. 20.938.380.000, hewan kesayangan 283 ekor, unggas 1.838 ekor, produk hewan 14.9488 kg, pakan ternak 5.434.750 kg Kewaspadaan terhadap penyakit Jemberana pada sapi bali yang terjadi di Kalimatan Timur dan HPHK lain yang belum ada di Sulawesi Tengah, serta belum hilang dari ingatan kita tarjadinya wabah flu burung yang bukan saja menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar, jutaan unggas yang mati, korban jiwa dan juga kecemasan batin masyarakat, kekawatiran terjadinya pandemik flu burung. Semoga tidak terjadi.....




    KEMENTERIAN PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA
    Copyright © Balai Karantina Kelas II Palu 2013