Badan Karantina Pertanian
Profil
· Profil
· Tupoksi
· Visi dan Misi
· Struktur Organisasi

Layanan Pengaduan


Layanan Informasi


Form Pengaduan

Pengaduan


Menu Utama
  • Depan
  • Arsip Berita
  • Downloads
  • Feedback
  • Gallery
  • Kirim Berita
  • Kontak
  • Search
  • Topics
  • Web Links

  • Pencarian



    Hit
    Kami sudah menampilkan
    4603129
    halaman sejak Maret 2013

    Dampak Musim Pancaroba Terhadap Unggas
    Dikirim oleh arief - pada Sabtu, 31 Januari 2015

    Wawan Setia

    Paramedik Veteriner Pelaksana

    Secara normal, musim penghujan biasanya terjadi pada bulan Oktober - Maret dan musim kemarau di bulan April - September. Namun, beberapa tahun belakangan ini pola atau jadwal musim ini berubah menjadi tidak menentu (unpredictable). Seperti halnya Desember 2008 yang seharusnya sudah musim penghujan namun di beberapa daerah masih musim kemarau. Kondisi ini, diprediksikan oleh ahli klimatologi merupakan efek global atau local warming.Peralihan antara musim Inilah yang disebut dengan musim pancaroba. Dalam kurun waktu yang tidak lama lagi kita akan memasuki musim hujan dengan kondisi suhu udara lebih dingin dengan kelembaban yang tinggi. Dengan effect global warming berpengaruh juga terhadap musim kemarau dengan temperatur sangat tinggi, curah hujan tidak menentu, peningkatan ketinggian air laut, serta peningkatan aktivitas gunung berapi.



    Perubahan nyata yang terjadi pada musim pancaroba adalah terjadinya perubahan cuaca yang drastis, fluktuasi suhu dan kelembaban yang tajam, serta adanya perbedaan yang mencolok antara siang dan malam dengan perbedaan lebih dari 6°C. Suhu yang cenderung ekstrim antara siang hari kadang mencapai 35°C, sedangkan malam hari sangat rendah. Dalam dunia perunggasan, kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya wet litter serta gas  amonia lebih cepat terbentuk.

    Immunosupresif

    Ayam tidak memiliki pengatur suhu (thermoregulator) yang baik, terutama pada ayam muda. Sistem thermoregulator terdiri dari anterior (bagian depan) hipotalamus, bagian preoptik besar (cerebrum), tali saraf otak ke sepuluh (nervus vagus) dan tali-tali saraf tepi yang sensitif terhadap temperatur. Kelemahan tersebut menjadi faktor pemicu bangsa aves termasuk unggas memiliki kepekaan yang tinggi terhadap adanya perubahan suhu. Kepekaan yang tinggi berbuntut negatif yang menyebabkan ayam mudah stres. Stres merupakan kondisi immunosupresant, dimana akan berakibat pada buruknya sistem pertahanan unggas, stres juga berdampak pada rendahnya respon kekebalan terhadap vaksinasi sehingga titer antibodi yang dihasilkan tidak optimal.

    Pada DOC, stres akibat pancaroba dampaknya akan terlihat nyata. Pada minggu awal, secara fisiologis terjadi proses penyerapan kuning telur. Kuning telur merupakan sumber makanan bagi DOC serta sumber antibodi maternal (antibodi asal induk). Stres akan berpengaruh terhadap proses penyerapan kuning telur tersebut. Padahal, pada minggu ini diperlukan pertumbuhan organ-organ dalam termasuk organ pencernaan yang pesat.

    Merebaknya Kasus Penyakit

    Biasanya terdapat enam penyakit penting yang sering berjangkit pada musim pancarobayang perlu diwaspadai yaitu CRD, koksidiosis, colibacillosis, ND, IB dan aspergillosis (mikotoksikosis). Namun perlu diwaspadai juga adanya penyakit viral seperti Gumboro, ND maupun AI. Semua penyakit tersebut termasuk Hama Penyakit Hewan Karantina golongan II berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 3238 tahun 2009.

    Kondisi ayam yang stres (immunosupresif) menyebabkan bibit penyakit mudah menginfeksi. Disinilah awal mula terjadinya peningkatan jumlah bibit penyakit. Karena mendapatkanhospes yang cocok, maka bibit penyakit mempunyai kesempatan untuk berkembang. Bakteri akan mengalami multiplikasi (memperbanyak diri dengan cara membelah), virus akan mengalami replikasi (memperbanyak diri dengan cara duplikasi), sehingga dalam feses maupun lendir ayam terinfeksi akan mengandung bibit penyakit dalam jumlah yang lebih banyak. Dalam istilah ilmiah terjadi shedding bibit penyakit. Feses dari ayam terinfeksi inilah yang akan menjadi sumber penularan penyakit ke ayam lainnya. Ditambah dengan meningkatnya kecepatan angin sehingga akan mempermudah dalam penyebaran penyakit.

    Penurunan Kualitas Pakan

    Pakan seharusnya di simpan pada suhu 25-28°C dengan kelembaban berkisar 60-70%. Kesalahan yang terkadang dilakukan adalah ketika penympanan pakan, dengan kondisi penyimpanan yang lembab menyebabkan kadar air meningkat, bahan kering, protein yang semula tertera 19 – 21 % dapat dipastikan menurun. Bahkan bukan hanya protein, asam amino maupun vitamin juga mengalami penurunan.

    Kondisi ini juga memicu pertumbuhan jamur. Kontaminasi jamur menjadi permasalahan sendiri akibat racun yang dihasilkan (Mikotoksikosis) yang berakibat keracunan. Kasus tersebut cukup banyak di lapangan, meski jarang menimbulkan kematian tapi kejadian ini cukup signifikan dalam menekan performannya.

    Patologi Anatomi HAti (Liver) akibat mikotoksikosis

    Penurunan Kualitas Air Minum

    Permasalahan air pada musim pancaroba adalah tingginya tingkat pencemaran bakteri E. colisehingga menyebabkan kandungan nitrit dalam air semakin tinggi. Selain nitrit, kandungan nitrat dalam air menjadi lebih tinggi akibat feses yang terbawa hujan sehingga dapat mengakibatkan ayam keracunan.

    Patologi Anatomi akibat E. coli

    Sebenarnya air hujan merupakan air yang sangat bersih. Hanya saja saat sampai di lingkungan kandang dan “bersentuhan” dengan udara kandang air hujan ini menjadi terkontaminasi. Hati-hati dengan air hujan yang mengenai feses dan kemudian terserap ke dalam tanah. Feses mempunyai kandungan nitrit maupun nitrat yang cukup tinggi, akibatnya air minum yang kita gunakan bisa memiliki kandungan nitrat dan nitrit yang tinggi. Seperti telah kita ketahui, kadar kedua zat ini dalam air minum hendaknya tidak melebihi 5 ppm untuk nitrat dan kurang dari 0,1 ppm untuk nitrit (Poultry drinking water primer The University of Georgia, 2006). Kadar nitrat dan nitrit yang melebihi kadar tersebut akan mengakibatkan keracunan pada ayam




    KEMENTERIAN PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA
    Copyright © Balai Karantina Kelas II Palu 2013